Oleh: ivo_well | Maret 11, 2010

Bahasa Tolaki

1. PENDAHULUAN
Bahasa Tolaki (BT) adalah salah satu bahasa di Sulawesi Tenggara yang
masih tetap berfungsi secara penuh yang bersifat internis oleh masyarakat
Kendari. Sekitar 92.6 % penduduk Kotamadya Kendari, Kabupaten Konawe,
Konawe Selatan dan Konawe Utara menggunakannya sebagai sarana komunikasi
lisan dengan tujuan menyatakan rasa intim dan rasa hormat, membicarakan hal
yang bersifat lokal maupun yang berhubungan dengan peraturan adat setempat,
Upacara adat dan perlehatan perkawinan. bahasa Tolaki di daerah Kabupaten
lebih dominan digunakan dalam pergaulan sehari-hari dibandingkan bahasa
Indonesia. Bahasa Indonesia digunakan hanya di tempat dan pertemuan formal.
Bahasa Tolaki termasuk dalam rumpun bahasa Austronesia, merupakan
bahasa vokalis dan jika dilihat dari segi morfologisnya merupakan bahasa
aglutinasi. Pada umumnya kata-kata bahasa Tolaki terdiri dari dari satu atau lebih
morfem tetapi batas antara morfem-morfem dalam kata itu jelas terlihat. Dalam
tipologi seperti ini, proses afiksasi merupakan faktor terpenting dalam proses
pembentukan kata dalam bahasa tersebut.
Afiksasi adalah proses penggabungan morfem bebas dengan morfem
terikat (afiks). Akibat dari penggabungan tersebut, dapat mengakibatkan
terjadianya perubahan fonem. Proses ini dikenal dengan proses morfofenemik.
Menurut Ramlan (1985) proses morfofenemik bisa berupa perubahan fonem,
penambahan fonem maupun penghilangan fonem. Meskipun hal tersebut
merupakan proses yang penting dalam bidang morfologi bahasa Tolaki, tetapi
belum banyak perhatian para linguis untuk mengkajinya bahkan penelitian bahasa
Tolaki secara umum masih berkisar pada kajian deskriptif struktural kebahasaan
saja.
Berdasarkan hal tersebut, maka kajian ini berupaya mengungkapkan
tentang perubahan-perubahan fonem yang terjadi dalam proses afiksasi bahasa
Tolaki.

2. Morfofonemik Bahasa Tolaki
Apabila dua morfem dihubungkan atau diucapkan yang satu sesudah yang
lain, ada kalanya terjadi perubahan pada segmen-segmen yang bersinggungan.
Studi tentang perubahan-perubahan pada segmen yang disebabkan oleh
hubungan dua mofem atau lebih disebut proses morfofonologi atau proses
morfofonemik.
Morfofonemik dapat diartikan sebagai kajian yang menjelaskan berbagai
perubahan fonologi yang terjadi karena morfem yang satu digabungkan dengan
morfem yang lain dalam rangka pembentukan kata. Perubahan fonologi yang
dimaksud adalah yang menyangkut tiga hal yaitu: a) Penambahan suatu segmen
fonem, b) Penghilangan suatu segmen fonem pada morfem-morfem yang
dilibatkan dalam proses pembentukan kata itu sendiri, c) Perubahan suatu
segmen fonem (apakah segmen konsonan atau vokal) menjadi segmen lain akibat
dari proses pembentukan kata.
Dalam BT aturan letak fonem dalam penyusunan morfem tidak selamanya
bebas. Aturan tata letaknya mengikuti aturan distribusi. Fonem-fonem vokal BT
memiliki distribusi lengkap, artinya dapat menempati posisi awal, tengah dan
akhir kata, namum ada beberapa vokal mengalami pemanjangan pada akhir kata.
Alternasi otomatis dalam BT pada berupa penambahan bunyi yang bersifat
fonetis. Misalnya: kata kaa makan ketika dilekatkan dengan konfiks -um -i
yang berarti melakukan sesuatu terhadap objek tertentu dalam bentuk tunggal,
secara otomatis akan muncul bunyi [q] i. menjadi kumakaaqi memakan .
Penambahan [q] hanya bersifat fonetis dan otomatis: tidak mengubah fonem
ataupun ejaan.

2.1 Struktur Morfem Bahasa Tolaki
Syarat-syarat positif digunakan untuk memperoleh pola kononik dari
bentuk asal morfem pangkal yang dapat diumpulkan pada bahasa Tolaki adalah:

1. Pola V ([+sil])
Contoh: /a/ pinggang

2. Pola KV ([-sil] [+sil])
Contoh: /wu/ rambut
/no/ karena

3. Pola V-V ([+sil] [+sil])
Contoh: /ea/ iris
/ao/ betung

4. Pola V-KV ([+sil] [-sil] [+sil])
Contoh: /ama/ ayah
/ulu/ kepala

5. Pola KV V ([-sil] [+sil]-[+sil])
Contoh: /tia/ perut
/pue/ Kakek

6. Pola KV KV ([-sil] [+sil] [-sil] [+sil])
Contoh: /gondi/ gunting
/gambi/ cambang

7. Pola KV-V-V ([-sil] [+sil]-[+sil]-[+sil])
Contoh: /wiau/ kemiri
/daoa/ pasar

8. Pola KV KV KV ([-sil] [+sil]- [-sil][+sil]-[-sil][+sil])
Contoh: /kiniku/ kerbau
/kaluku/ kelapa

9. Pola KV V KV ([-sil] [+sil] [+sil] [-sil] [+sil])
Contoh: /luale/ gadis
/meana/ banyak anak

10. Pola KV KV V ([-sil][+sil] [-sil] [+sil] [+sil])
Contoh: /bokeo/ buaya
/moreo/ sakit

11. Pola V-V-V ([+sil] – [+sil] [+sil])
Contoh: /eie/ siram
/oue/ rotan

12. Pola V-KV-KV ([+sil] [-sil][+sil] [-sil][+sil])
Contoh: /ohulo/ lampu
/arano/ rawa
Berdasarkan data di atas pola kanonik bahasa Tolaki dapat disimpulkan
sebagai berikut:

1. Pola kanonik bersuku satu:
a. V
b. KV

2. Pola kanonik yang bersuku dua:
a. V V
b. V KV
c. KV V
d. KV KV

3. Pola kanonik yang bersuku tiga:
a. KV V V
b. KV KV KV
c. KV V KV
d. KV KV V
e. V V V
f. V KV KV

Segmen yang wajib hadir dalam rangkaian segmen sebuah morfem
pangkal adalah segmen vokal [V]. Segmen vokal wajib hadir dalam setiap suku
kata yang bersuku dua, maupun yang bersuku tiga dapat diisi oleh sebuah vokal
[V].
Berdasarkan pola kanonik morfem pangkal di atas, dapat ditarik
kesimpulan sebagai berikut:
a. Sebuah morfem asal pangkal paling sedikit mengandung satu segmen vokal
([+sil]) dan
b. Sebuah morfem asal pangkal tidak dapat berakhir dengan konsonan ([-sil]).

2.2 Afiksasi
Afiksasi adalah penggabungan morfem bebas dan morfem terikat. Proses
ini disamping mengubah arti morfem, ada kalanya juga mengubah identitas kata.
Akibat penggabungan ini ada kalanya fonem mengalami perubahan yang lebih
dikenal sebagai proses morfofenemik. Dalam proses ini hanya terjadi modifikasibunyi
yang bisa berbentuk perubahan fonem.
Dalam hal ini prinsip yang perlu diperhatikan adalah adanya tingkatan
hirarkis komponen morfologis dan jenis afiks yang melekat pada bentuk asal kata.
Dalam hirarki ini, afiks digolongkan menjadi afiks primer yang diletakkan pada
level 1 dan afiks sekunder yang diletakkan pada level 2. Adapun data yang
mengalami perubahan fonem sebagai berikut:

1. Prefiks moN- jika muncul bersama kata dengan fonem awal berbentuk dasar
dental /t/ maka /t/ akan berubah menjadi /d/, sedangkan jika bergabung dengan
kata berfonem awal /d/ tidak mengalami perubahan, seperti pada contoh
berikut ini.
moN- + tatapi cuci mondatapi mencuci
tumba besar mondumba memperbesar
moN- + dokowi tutup mondokowi menutup
damba i hirau mondambandi menghiraukan
Jadi kaidah perubahan berdasarkan data di atas sebagai berikut.
[-voiced] [+voiced] X +son + -front Y
+cor -back

2. N- pada prefiks moN- akan berubah menjadi m- jika muncul bersama fonem
awal bentuk dasar bilabial /b/ sedangkan /p/ akan berubah menjadi /b/. Akan
tetapi tidak demikian halnya jika bergabung dengan kata yang berawal dengan
fonem /b/, seperti pada contoh berikut.
moN- + podea dengar mombodea mendengarkan
pole potong mombole memotong
moN- + bawo berita mombawo memberitakan
baho mandi mombaho memandikan
Jadi kaidah perubahan berdasarkan data di atas sebagai berikut.

1. -lab +lab X +high + -son Y
+cor -cor +back -cor

2. [-voiced] [+voiced] X +son + +high Y
+cor +low
S3 Doktor Lingistik- Unud -2008 Morfologi Page 7

3. Jika prefiks mo – bergabung dengan kata bentuk dasar berawalan /k/ maka /k/
akan berubah menjadi /g/, seperti pada contoh berikut.
mo – + ka: makan mo ga makan
+ kali buang mo gali membuang
Jadi kaidah perubahan berdasarkan data di atas sebagai berikut.
[-voiced] [+voiced] X +son +sil Y
-cor +low

4. Prefiks mo- berubah menjadi zero / / bila dipadukan dengan kata dasar yang
diawali oleh fonem /t/, /w/, /b/, /l/, /h/, /s/, /d/ dan /i/ seperti pada contoh
berikut.
mo- + seu jahit moseu menjahit
inu minum moinu minum
doa hitung modoa menghitung
horia teriak mohoria berteriak
wei beri mowei memberi
lasu lari molasu lari
bea berat mobea berat
totao tertawa mototao tertawa

5. Prefiks me- berubah menjadi zero / / bila dipadukan dengan kata dasar yang
diawali oleh fonem /t/, /p/, /l/, /k/, /s/, /d/, /b/, /g/ dan /u/ seperti pada contoh
berikut.
me- + uma cium meuma mencium
karu garuk mekaru menggaruk
doa hitung medoa menghitung
tulura bicara metulura berbicara
gande bonceng megande membonceng
pikiri pikir mepikiri berfikir
baho mandi mebaho mandi
susua menyanyi mesusua menyanyi
lepa sila melepa bersila
Dari data di atas, dapat dijelaskan bahwa me-N dapat mengubah bentuk
dan identitas kata sehingga jenis afiks yang dipakai pun dapat berbentuk afiks
derivasional atau infleksional, tergantung dari apakah kehadiran afiks tersebut
mengubah identitas kata atau tidak. Kalau afiks tersebut tidak mengubah kelas
kata, maka afiks tersebut digolongkan menjadi afiks infleksional.
Data di atas menunjukan bahwa satu afiks dapat digolongkan menjadi
infleksional atau derivasional. Hal ini karena bentuk dasarnya dapat
diklasifikasikan menjadi dua kelas yaitu verba maupun nomina. data di atas juga
memperlihatkan bahwa me-N memiliki 3 (tiga) alomorf. Kalau dicermati proses
perubahan ke dalam masing-masing alomorf di atas tidak terjadi secara kebetulan
tetapi secara sistematis dan beraturan atau mengikuti kaidah-kaidah tertentu.

2.3 Alternasi Morfem yang Membantu Fungsi Morfologis
Alternasi yang membantu fungsi morfologi dalam BT berdasarkan data
yang kumpulkan dalam BT yaitu penambahan fonem / / pada konfiks um.. i
saja. Jika dilihat pada kata (morfem bebas tempat kedua sufiks itu menempel)
hanya pada kata yang berakhiran vokal [a], [i], dan [u].
Pemunculan /q/ pada proses ini merupakan jenis alternasi yang membantu
proses morfologis. Berikut beberapa contoh:
saira sabit s+um+aira+ +i menyabitnya
luwi minyak l+um+uwu+ +i menyabitnya
hunu bakar h+um+unu+ +i membakarnya

2.4 Kaidah Morfofenemik Bahasa Tolaki
Berdasarkan data di atas, maka dapat dirumuskan kaidah morfofonemik
yang berupa:

2.4.1 Kaidah nasalisasi prahambat
Dalam bahasa Tolaki, ruas konsonan /p/ menjadi nasalisasi prahambat
/mb/ apabila kata bilangan satuan berposisi di depan kata bilangan puluhan.
Perubahan ruas konsonan tersebut dapat dikatakan sebagai proses nasalisasi
prahabat dan penyuaraan. Yaitu, terjadi kaidah berurutan yakni penyuaraan terjadi
setelah nasalisasi prahambat. Kata bilangan satuan yang berposisi di depan kata
bilangan puluhan yang mengalami proses nasalisasi prahambat dan penyuaraan,
hanya terjadi pada bilabial. Seperti pada data berikut.
a. /ruo pulo/ [ruambulo] dua puluh
b. /tolu pulo/ [tolumbulo] tiga puluh
c. /lomo pulo/ [limambulo] lima puluh
d. /pitu pulo [pitumbulo] tujuh puluh
Berdasarkan data tersebut, dapat dikaidahkan sebagai berikut:
1. Kaidah nasalisasi prahambat:
+kons
-voicd [ +nas prham] [sil] [+sil]
+ant
-cor
2. Kaidah penyuaraan
+cons
-voicd [ +voiced ] [sil] [+sil]
+ant
-cor
+nas prhm

2.4.2 Kaidah Penyisipan Glotal ( )
Penyisipan glotal dalam Bahasa Tolaki jumlahnya terbatas. Hal ini disadari
karena data yang dihimpun memperlihatkan gejala perubahan tersebut.
Penambahan ini tampaknya terjadi secara beraturan. Perhatikan contoh berikut:
saira sabit s+um+aira+q+i menyabitnya
luwi minyak l+um+uwu+q+i menyabitnya
hunu bakar h+um+unu+q+i membakarnya
berdasarkan data tersebut, dapat dikaidahkan sebagai berikut.
+const
-ant +sil
-voicd -front V V
-cont -back
-high
kaidah di atas menjelaskan bahwa bentuk dasar yang diakhir dengan vokal
[a], [i], dan [u] ketika dilekati dengan konfiks um -I akan bisa berubah menjadi
qi.

3. Simpulan
Dari hasil analisis di atas, maka dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut:
Berdasarkan pola kanonik bahasa Tolaki, sebuah morfem asal pangkal
paling sedikit mengandung satu segmen vokal ([+sil]) dan sebuah morfem asal
pangkal tidak dapat berakhir dengan konsonan ([-sil]).
Proses atau kaidah modifikasi bunyi yang membentuk realisasi morfem
dalam kombinasi morfem pada afiksasi adalah kaidah nasalisasi prahambat dan
kaidah penyisipan glotal.
Proses alternasi otomatis dalam bahasa Tolaki yaitu penambahan fonem
/ / pada konfiks um.. I saja. Jika dilihat pada kata (morfem bebas tempat
kedua sufiks itu menempel) hanya pada kata yang berakhiran vokal [a], [i], dan
[u].


Responses

  1. mantap…bisa jelaskan nama-nama orang dalam bahasa tolaki dan makna dari nama tersebut sebagai bahan dalam membuat sebuah aplikasi berbahasa tolaki yang sedang sy kembangkan…terimakasih


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: